Kuhidangkan jiwaku pada sepi
Dan kubiarkan jasadku tergeletak
Diantara riuh ratusan burung nazar
Yang datang memecah sunyi
Terbang dari empat penjuru bumi
Sementara itu, pintupintu yang ku
ketuk
Semakin rapat tertutup
Tak peduli pada genta yang lantang
teriak
Tak ada jerit, dan semua suara
terkatup
Langkah semakin gontai menatap
arah
Merekareka sebuah tuju
Tatap mata membisikkan kata untuk
menyerah
Lalu berhenti diantara
persimpangan yang buntu
Biarkan saja jiwaku menjadi tumbal
sunyi
Dan kepak sayap kematian memeluk
perlahan
Sementara teriakan yang lantang
kulantunkan
Mengendap menjadi tumpukan sampah
Hingga mereka menutup hidung,
telinga dan hingga kedua mata
09082012


Posting Komentar