Kupunguti gigil di atas jalan yang basah
Menghitung setiap helainya dalam bibir yang gemetar
Sementara nanar mencumbu kunangkunang dalam kepalaku
Ini tubuh lelah, mungkin sebentar lagi rebah
Lamatlamat kubaca raut wajah malam yang buram
Tak bersuara apaapa, hanya kelam tak berkalam
Sementara aroma candu hinggap di kelopak netraku
Ini waruga, menanti retina terpejam saja
Ah, biarlah sudah
Tak kutemui tempat ku istirah
Ini tubuh lelah, ingin sekali rebah
Dan waruga sabar menanti jamah
Kelopak netra masih mencari rumah
Lelah…
Buram senja,
Hari delapan belas di January
Kulepas pandang
Langit tak berbintang
Sepi hanya berbincang
Kulepas Tanya
Hanya beku purnama
Bisu mengecup makna
Pandang berbalas Tanya
Dan Tanya hanya bias beku saja
Leksono
15 Januari 2012
Renai yang tak berusai
Mengisi senja yang merapal mantra
Ada yang menggelitik
Diantara paras senja yang cantik
Bukan rerencik yang rintikrintik
Tapi rasa yang disapu kuaskuas beku
Tapi rindu yang memaksa imaji terbuka
Tak kudengar dendang jingga
Di panggung recital cakrawala
Hanya lantunan ayat suci anak desa yang mengaji
Setiap baitnya mengajarkan ku mengeja tembang asmaradhana
Mungkin nanti saat senja berusai
Kuiring tari sekar pudyastuti diantara purnama hari
Leksono
14 January 2012
Biarkan angin itu
Membelai reranting rindu yang kering
Disudut hati yang hening
Dan menjadi dingin kecupan kening
Biarkan angin itu
Menjamah resah disudut gundah
Dan harap kembali berumah
Kepada lengkung senyum yang indah
Biarkan angin itu
Mengantarku rebah
Dalam rindu yang tak berkesudah
January 2012
Namamu memberi spasi diantara hening
Mengisi sela yang berjarak
Dan aku kaku terpaku pada tembok berdebu
Sedangkan waktu mengisi dua belas putaran purnama
Dengan janji yang kurangkaikan ditiap rotasi bumi
Namamu memberi ruang jelaga
Mungkin sengaja, biar bisa kuisi dengan cinta
Atau kupindahkan nirwana saja
Biar tak lagi aku berpaling
Tatapmu adalah peluru
Jatuh tepat didadaku
Tangkap orang itu pak polisi
Dia yang buat luka didadaku
01 January 2011