Saat lelah mengais disisa hari yang mulai gundah
Kutemukan partitur tak berjudul
Tercetak miring diantara langit senja
Kubiarkan saja bibir mengulum diam
Biar bisa kudengar degup jantung yang mengalun
Mungkin disana kudapati baitbait namamu
Saat baskara bergelayut manja pada jingga
Kutemukan goresan sajak tak bernama
Meluka cakrawala dalam nanar dalam jenar
Kubiarkan netra kembara kesemua penjuru
Biar bisa kulihat kepak camar yang pulang
Mungkin disana kudapati angin membisik namamu
Saat tirai cahaya mulai tertutup
Aku hanya sembunyi dibawah kolong tempat tidurku
Takut rindu menarik selimut peraduanku
Dan gigil malam menjadi semayam dikesepianku yang dalam
Tanpa kamu yang kembara dijejak imajiku selalu
Desember 2011
Kutulis aksara ini
Diantara dingin yang memanggil gigil
Bersama kabut yang turun mengisi lembah mandalawangi
Apakah kau mengerti, mengapa aku membunuh waktu
disini
Disini di lembah Mandalawangi yang sunyi
Aku ingin Bunga Abadi hadir dalam akadku
Menjadi saksi dalam rasa yang kuunduh sendiri
Tanpamu, tanpa kamu
Dan kubiarkan aroma abadi pucuk edelweiss lebur
Menyatu dengan cinta ku yang gugur
Tersemai diantara keindahanmu bidari
Angan ingin kau termiliki
20042012
Jejak bisu Mikail datang memanggil gigil
Jingga lari menuju singasana
Diam tanpa sepatah pun kata
Perlahan malam datang dengan ambigu rasa
Seperti gamang menanti tarian sang rembulan
Mungkin karena gemintang
Ya, karena gemintang
Gemintang sembunyi disudut luka hari
Lalu pergi tak terlihat senyumnya lagi
Biar…
Biarkan saja gemercik rintik jatuh
Biar gemulai kepak sayap Mikail gaduh
Biarkan mengaduh sepi
Biar berkelana sunyi
Sebab malam ini aku tak mau sendiri
Sedari tadi sepi merampas yang kumiliki
17042012