Unknown
Senja itu aku masih bercumbu dengan hujan
Yang bermain bersama anak – anak kecil di pekarangan
Senja itu aku masih bercerita bersama secangkir kopi
Dibalik dingin yang menari bersama angin

Dan saat senja itu aku semakin mengerti
Mengapa ada tawa ditiap tetes hujan yang jatuh
Dan saat senja itu aku mengerti
Bahwa hujan menyimpan keindahan

Kupunguti helai demi helai sayap Mikail
Diantara tetes hujan yang singgah
Diantara pucuk – pucuk pinus
Diantara ilalang yang rebah

Kudengar syukur diantara gemercik hujan
Diantara doa – doa yang terkabul
Diantara pinta yang didengar oleh Nya

Dan saat senja itu aku semakin mengerti
Mengapa ada tawa ditiap tetes hujan yang jatuh
Dan saat senja itu aku mengerti
Bahwa hujan menyimpan keindahan
Unknown
Hujan baru saja usai saat aku akan mulai
Meninggalkan jejak diatas tanah becek
Diantara bebatuan yang berjajar
Diantara setapak yang terus saja menanjak

Gerbang hutan bamboo
Menyambutku ramah
Tersenyum memberi tanda
Perjalanan baru saja mulai

Terus kususuri malam
Diantara dingin yang meninggi
Meninggalkan jejak
Sisa kaki mengayun langkah

Bulan yang menyapa dibalik awan
Aroma tembakau yang berjajar
Menjadi saksi dari butir peluh
Saat kutapaki jalan
Menuju puncak 3371 MPDL

Dan dalam jejak waktu
Kusadari aku telah jauh melangkah
Entah sudah berapa jauh
Dan berapa banyak jejak kuukir
Karena aku hanya peduli pada penat
Dan dingin yang perlahan menyayat




Unknown
Sudah lama aku tak berada disini
Ditepi kali bermain diantara batu kali
Duduk bermain air kali
Diantara pucuk nyiur bermain mentari

Biasanya aku hanya duduk disini
Membunuh waktu
Mendengarkan nyanyian air dari hilir ke hulu

Sesekali aku memeras kata diantara asa
Meninggalkannya diantara goresan pena
Melukiskannya diantara bias cahaya

Dan kini semua tak tampak sama adanya
Karena waktu terus membawaku berlari
Bukan untuk kembali
Tak selalu untuk pergi
Unknown




Unknown




Unknown
Senja itu aku masih bercumbu dengan hujan
Yang bermain bersama anak – anak kecil di pekarangan
Senja itu aku masih bercerita bersama secangkir kopi
Dibalik dingin yang menari bersama angin

Dan saat senja itu aku semakin mengerti
Mengapa ada tawa ditiap tetes hujan yang jatuh
Dan saat senja itu aku mengerti
Bahwa hujan menyimpan keindahan

Kupunguti helai demi helai sayap Mikail
Diantara tetes hujan yang singgah
Diantara pucuk – pucuk pinus
Diantara ilalang yang rebah

Kudengar syukur diantara gemercik hujan
Diantara doa – doa yang terkabul
Diantara pinta yang didengar oleh Nya

Dan saat senja itu aku semakin mengerti
Mengapa ada tawa ditiap tetes hujan yang jatuh
Dan saat senja itu aku mengerti
Bahwa hujan menyimpan keindahan
Unknown
Lahir Bulan JANUARI: TIDAK SOMBONG,TIPE PENJAGA RAHASIA,TIDAK TEGAAN,AGAK PEMALAS,LUCU.

Lahir Bulan FEBRUARI: SUKA MENOLONG,PANDAI BERGAUL,MURAH SENYUM,TAK MUDAH CEMBURU,SETIA.

Lahir Bulan MARET: TAK MEMBOSANKAN,HUMORIS,RELA BERKORBAN,TAK MUDAH MENYERAH,LUCU.

Lahir Bulan APRIL: PANDAI BERGAUL,SUKA BERKOMPETISI,HUMORIS,LUCU,ROMANTIS,SETIA.

Lahir Bulan MEI: TIDAK SOMBONG,ENAK DIAJAK CURHAT,TIDAK TEGAAN,LUCU,PENJAGA RAHASIA.

Lahir Bulan JUNI: KREATIF,MANDIRI,LUCU,BERTANGGUNG JAWAB,BISA DIANDALKAN,SANGAT SETIA

Lahir Bulan JULI: TIDAK TEGAAN,MURAH SENYUM,HUMORIS,SETIA,RELA BERKORBAN,AGAK PEMALAS.

Lahir Bulan AGUSTUS: TIDAK TEGAAN,SANGAT SETIA,HUMORIS,TIDAK MUDAH CEMBURU,BISA DIANDALKAN

Lahir Bulan SEPTEMBER: ROMANTIS,TIDAK MUDAH CEMBURU,ENAK DILIHAT,LUCU,RELA BERKORBAN,IDELAIS.

Lahir Bulan OKTOBER: KREATIF,IDEALIS,SANGAT SETIA,AGAK PEMALAS,ROMANTIS,ENAK DIAJAK CURHAT.

Lahir Bulan NOPEMBER: TIPE PENJAGA RAHASIA,PANDAI BERGAUL,LUCU,MENARIK,TIDAK SOMBONG.

Lahir Bulan DESEMBER: SUKA BERCANDA,MUDAH BERADAPTASI,SANGAT SETIA,TIDAK MUDAH MENYERAH.




Doa
Unknown
Dalam lelah aku menengadah
Membuka kedua telapak tangan
Setelah seharian aku kepal
Melawan hariMu yang tak pernah pasti

Dalam malam yang meninggi
Aku coba berbagi denganMu
Tentang kisahku hari ini
Walau Engkau adalah Maha Tahu

Aku hanya ingin sekedar bercerita
Karena hanya denganMu aku ingin membaca keluhku
Selain dengan secangkir kopi yang kuseruput tadi
Unknown
Bila cinta memanggilmu, turutlah bersamanya. Kendati jalan yang mesti
engkau lalui sangat keras dan terjal. Ketika sayap-sayapnya merangkulmu,
maka berserah dirilah padanya. Sekalipun pedang-pedang yang
bersemayam di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu. Ketika ia
bertutur kepadamu, maka percayalah padanya. Walaupun suaranya akan
memporak porandakan mimpi-mimpimu laksana angin utara yang meluluhlantakkan
tetanaman.
Cinta akan memahkotai dan menyalibmu. Menyuburkan dan mematikanmu.
Membumbungkanmu terbang tinggi, mengelus pucuk-pucuk rerantinganmu
yang lentik dan menerbangkanmu ke wajah matahari. Namun cinta juga
akan mencekik dan menguruk-uruk akar-akarmu sampai tercabut dari
perut bumi.
Serupa dengan sekantong gandum, cinta menyatukan dirimu dengan dirinya.
Meloloskanmu sampai engkau bugil bulat. Mengulitimu sampai engkau
terlepas dari kulit luarmu. Melumatmu untuk memutihkanmu.
Meremukkanmu sampai engkau menjelma liat.
Lantas,
Cinta akan membopongmu ke kobaran api sucinya. Sampai engkau berubah
menjadi roti yang disuguhkan dalam suatu jamuan agung kepada Tuhan.
Cinta melakukan semua itu hanya untukmu sampai engkau berhasil menguak
rahasia hatimu sendiri. Agar dalam pengertian itu engkau sanggup menjadi
bagian dari kehidupan. Jangan sekali-kali engkau ijinkan ketakutan
bersemayam di hatimu. Supaya engkau tidak memperbudak cinta hanya
demi meraup kesenangan. Sebab memang akan jauh lebih mulia bagimu.
Untuk segera menutupi aurat bugilmu dan meninggalkan altar pemujaan
cinta. Memasuki alam yang tak mengenal musim. Yang akan membuatmu
bebas tersenyum, tawa yang bukan bahak, hingga engkau pun akan
menangis, air mata yang bukan tangisan.
Cinta takkan pernah menganugerahkan apa pun kecuali wujudnya sendiri.
Dan tidak sekali-kali menuntut apapun kecuali wujudnya sendiri itu pula
Cinta tidak pernah menguasai dan tidak pernah dikuasai. Lantaran cinta
terlahir hanya demi cinta.
Manakala engkau bercinta, jangan pernah engkau tuturkan, "Tuhan
bersemayam di dalam lubuk hatiku". Namun ucapkanlah, "Aku tengah
bersemayam di lubuk hati Tuhan". Jangan pula engkau mengira bahwa
engkau mampu menciptakan jalanmu sendiri Sebab hanya dengan seijin
cintalah jalanmu akan terkuak.
Cinta tidak pernah mengambisikan apapun kecuali pemuasan dirinya sendiri
Tetapi bila engkau mencintai dan terpaksa mesti menyimpan hasrat, maka
jadikanlah hasratmu seperti ini :
Melumatkan diri dan menjelma anak-anak sungai yang gemericik
mengumandangkan tembang ke ranjang malam Memahami nyerinya rasa
kelembutan Berdarah oleh pandanganmu sendiri terhadap cinta
Menanggung luka dengan hati yang penuh tulus nan bahagia Bahagia dikala
fajar dengan hati mengepakkan sayap-sayap Dan melambaikan rasa syukur
untuk limpahan hari yang berbalur cinta Merenungkan muara-muara cinta
sambil beristirahat di siang hari. Dan kembali dikala senja dengan puja
yang menyesaki rongga hati.
Lantas,
Engkaupun berangkat ke peraduanmu dengan secarik doa. Yang disulurkan
kepada sang tercinta di dalam hatimu Yang diiringi seuntai irama pujian
yang meriasi bibirmu...
~ Kahlil Gibran ~
Unknown
4. Kekuatan Perjuangan (The Power of Survival)
Setiap manusia diberikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah kita dibentuk menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Seringkali kita lupa untuk belajar bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan (ingredient) yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.


5. Kekuatan Pembelajaran (The Power of Learning)
Salah satu kekuatan manusia adalah kemampuannya untuk belajar. Dengan belajar kita dapat menghadapi dan menciptakan perubahan dalam kehidupan kita. Dengan belajar kita dapat bertumbuh hari demi hari menjadi manusia yang lebih baik. Belajar adalah proses seumur hidup. Sehingga dengan senantiasa belajar dalam kehidupan ini, kita dapat terus meningkatkan taraf kehidupan kita pada aras yang lebih tinggi.
6. Kekuatan Pikiran (The Power of Mind)
Pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling besar dan paling terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi.
Semua dari kita berhak dan memiliki kekuatan untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupannya. Semuanya ini adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan keyakinan kita, dan bukan dari produk kondisi keberadaan kita di masa lalu dan saat ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jack Canfield dalam bukunya The Power of Focus, bahwa kehidupan tidak terjadi begitu saja kepada kita. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita.
Unknown
Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna, dengan kemampuan otaknya manusia mampu terbang bahkan pergi ke bulan, sesuatu yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh manusia jaman dulu. tapi tahukah kalau sebenarnya kita masih memiliki potensi lain yang jauh lebih besar dari sekedar pergi ke bulan. manusia memiliki kekuatan lain yang seringkali bahkan tidak kita sadari. kita lihat apa saja itu.
.1 Kekuatan Impian (The Power of Dreams)
Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.
2. Kekuatan dari Fokus (The Power of Focus)
Fokus adalah daya (power) untuk melihat sesuatu (termasuk masa depan, impian, sasaran atau hal-hal lain seperti: kekuatan/strengths dan kelemahan/weakness dalam diri, peluang di sekitar kita, dan sebagainya) dengan lebih jelas dan mengambil langkah untuk mencapainya. Seperti sebuah kacamata yang membantu seorang untuk melihat lebih jelas, kekuatan fokus membantu kita melihat impian, sasaran, dan kekuatan kita dengan lebih jelas, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam melangkah untuk mewujudkannya.
3. Kekuatan Disiplin Diri (The Power of Self Discipline)
Pengulangan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mencapai keunggulan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Menurut filsuf Aristoteles, keunggulan adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan terbangun dari kedisiplinan diri yang secara konsisten dan terus-menerus melakukan sesuatu tindakan yang membawa pada puncak prestasi seseorang. Kebiasaan kita akan menentukan masa depan kita. Untuk membangun kebiasaan tersebut, diperlukan disiplin diri yang kokoh. Sedangkan kedisiplinan adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita dan mengendalikannya untuk mencapai impian dan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.
Unknown


"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah"
Aku awali tulisanku dengan sebuah kutipan puisi milik Soe HOk Gie, Mandalawangi - pangrango.Aku tak tahu pasti kapan aku pertama kali membaca puisi itu? Yang pasti sudah lebih dari puluhan kali membaca puisi itu. Karena baris – baris kata yang dituliskan Soe Hok Gie, begitu menginspirasiku. Aku jadi lebih ingin mengenal akan alam, akan keindahan tebing – tebing curam.
Soe Hok Gie, mungkin banyak dari generasi muda kini yang tak mengenal siapa Soe Hok Gie. Tapi yang jelas bagiku Soe Hok Gie atau Gie adalah sosok yang penuh inspirasi.
Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djin yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.
Soe Hok Gie kecil dikenal senang membaca, dia bersama kakaknya Soe Hok Djin sering berkunjung ke perpustakaan umum dan taman bacaan di pinggiran jalan. Sejak Sekolah Dasar (SD) Gie sudah senang membaca karya – karya sastra yang serius. Satu diantaranya milik Pramoedya Ananta Noer, mungkin darah sang ayah yang seorang penulis membuatnya dekat dengan dunia sastra.
Selepas Sekolah Dasar (SD) gie melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada didaerah Gambir. Sedangkan sang kakak Soe Hok Djin (Arief Budiman) memilih melanjutkan di Kanisius. Dibangku SMP inilah konon Soe Hok Gie mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya : “ Cerita Dari Blora “ yang pada saat itu amatlah langka. Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Soe Hok Gie bukanlah murid yang menonjol. Bahkan pada kelas dua prestasi Soe Hok Gie amatlah buruk, bahkan Gie diharuskan mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam. Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
Soe Hok Gie dan sang kakak Hok Djin, berhasil menyelesaikan pendidikan di SMA dengan nilai terbaik. Dan kemudian mereka berdua melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia. Sang kakak Hok Djin memilih masuk fakultas psikologi, sedangkan Gie memilih masuk fakultas sastra sejarah.
Dimasa kuliah inilah pemikiran Gie semakin berkembang. Gie aktif menjadi aktivis kemahasiswaan. Dan banyak yang meyakini bahwa Gie adalah satu penggerak yang mengakibatkan runtuhnya rezim Soekarno. Dan Gie adalah termasuk orang pertama yang lantang mengkritik rezim orde baru. Gie merasa kecewa dengan teman – temannya, pada masa demontrasi tahun 1966. Mereka lantang mengkritisi dan menguntuk pejabat – pejabat pemerintahan, namun setelah mereka lulus justru mereka berbalik memihak kesana dan lupa akan visi misi mereka dahulu.
Bukan hanya aktif mengkritisi ketidakadilan rezim pemerintahan pada saat itu, Gie juga menunjukkan kecintaannya pada alam. Ini dibuktikan dengan keikut setrtaannya dalam pembentukkan MAPALA UI (Mahasiswa Pencinta Alam UI). Gie sempat memimpin ekspedisi pendakian gunung Slamet 3.442mpdl di Purwokerto Jawa Tengah. Dan dia sempat mengutip kata – kata Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”. Bukan hanya itu, semua pemikiran – pemikirannya tentang hidup, tentang kemanusiaan, tentang cinta dan kematian dituliskannya didalam buku hariannya. Bahkan saya sempat memabaca salah satu dari tulisannya. “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
Setelah lulus Gie memilih untuk mengabdikan diri menjadi dosen di Universitas Indonesia, almamaternya dulu. Dan bersama MAPALA UI Gie berencana untuk melakukan pendakian puncak Mahameru yang sering disebut puncak abadi para dewa, gunung Semeru 3.676mpdl di Jawa Timur. Saat itu banyak yang bertanya mengapa meti naik gunung dan dengan bahasanya Gie berkata pada teman - temannya ;
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Soe Hok Gie sempat menuliskan tentang firasatnya sebelum berangkat menuju Semeru. “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :
Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.
Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru). Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil. “Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang. Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.
Jasad Soe Hok Gie sempat menjadi rebutan. 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Pada tahun 1975, Ali Sadikin yang menjadi gubernur Jakarta kala itu membongkar makamnya. Namun pihak keluarga menolaknya. Dan pada saat itu beberapa teman Soe Hok Gie sempat ingat pesan Soe Hok Gie. Bahwa jika ia meninggal sebaiknya jasadnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Oleh seba itulah tulang belulang Soe Hok Gie kemudian dikumpulkan dan dikremasi, untuk kemudian abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.
"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar 'terimalah dan hadapilah “

Leksono, 02 Mei 2011
Unknown
dalam gelap kau ada
dalam gelap kau indah.
karna aku hanya kunang-kunang
dalam gelap kau sendiri
dalam gelap kau berbagi
dalam gelap kau abadi.

cahaya itu maya
cahaya itu tak nyata
karna cahaya tak selama ada.

gelap dan cahaya
sepasang kekasih yang tak satu
tak mampu bersatu
Label: 0 komentar | edit post
Unknown
Senja itu aku tersenyum diantara cahaya langit yang mulai memudar. Tersenyum melihat anak – anak kecil berlarian dipinggir jalan yang tak pernah penuh dengan kendaraan. Mungkin hanya beberapa yang lewat, itu juga kendaraan yang sama yang kadang lalu lalang. Melihat anak – anak itu riang bermain sarung, mengingatkan aku yang dulu. Duduk dipinggir jalan saat senja, bercanda menunggu azan di mushola. Hal yang lama tak kujumpai di tempat aku tinggal, Jakarta yang katanya kota metropolitan.
Di Jakarta tiap senja aku hanya bisa memaki sambil duduk di balik stir mobil. Menikmati asap kendaraan yang ga ada habisnya. Macet, itu kata yang bisa kuartikan dengan senja di Jakarta. Walau tahu tiap senja pasti macet minta ampun, tapi herannya aku terus saja menikmatinya tiap senja di Jakarta.yah seolah bersahabat dengan rutinitas yang bikin gila. Lewat jalan yang sama, kemacetan yang sama, dan aku sampai hafal betul jumlah perempatan yang ada lampu merahnya. Bosan kadang melewatinya, tapi apa mau dikata semua demi rupiah.
Tapi senja ini aku bisa tersenyum, karena kulewati senja yang tak biasa. Tak ada asap kendaraan, tak ada bunyi klakson yang menggema, tak ada lalu lintas yang semerawut. Yang ada anak – anak kecil berlarian, bermain menanti azan berkumandang. Melakukan sholat magrib berjaamah, dan setelah itu mendengar anak – anak belajar ngaji di mushola. Hal yang tak pernah aku lakukan di ibukota. Biasanya aku melihat anak – anak diperempatan menjajakan Koran sore. Mereka bahkan tak sempat bercanda, mereka hanya peduli dengan rupiah yang akan mereka bawa. Apalagi mengaji di mushola, mungkin tak terlintas dibenak mereka.
Terima kasih Tuhan, atas semuanya. Aku jadi tahu bahwa senja bukan hanya sekedar senja. Tapi senja mengajarkan perpisahan tak selamanya menyedihkan. Senja mengisyaratkan bahwa perpisahan terkadang indah. Sepertinya halnya perpisahan antara matahari dan sang hari. Yang terlukis indah diantara jingga di cakrawala. Dan kilau emas diantara rambut gadis desa yang terurai kala senja. Dan merdu lantunan azan menyambut temaram dinyalakan. Dan tawa bocah diantara dendang lelah diantara debu jalan. Dan semua Nampak begitu indah.
Dan aku kembali tersenyum, mendengar semua kisah saat senja, yang tak pernah kudengar diantara kisah ibukota.

Leksono, 27 April 2011