Dalam
sajak dan puisi aku mencoba bermeditasi
Sepi, pun
kudengar dalam resonansi sunyi
Bukankah
hidup adalah panggung recital suci
Dimana
manusia menjadi seorang abdi
Sedang
Sang Penentu Takdir adalah Dia yang tak mengenal titik akhir
Kosong,
pun tak kudapati apaapa
Hanya
ruang berjelaga
Hampa,
sepi menusuk disetiap baris nadi
Benci, aku
ingin segera berlari
Dalam
sajak dan puisi aku coba menepi
Gelap,
merayap menyapa setiap sudut senyap
Entah; mana
utara, mana selatan
Tuhan, aku
berteriak memanggil namaMU
Labirin
tanpa pintu
Hanya
berputar pada satu poros waktu
Jengah,
ingin rebah untuk istirah
Pada
Pemberi Titah aku berserah
Menyulam
sebuah harapan diantara doadoa
Meski
hidup sembunyi diantara aksara tak terbaca
Wonosobo, 12 February 2013




