Dari balik jendela kusadap buram senja
Mengintip sebentuk hujan yang angkuh bergemuruh
Menyumbat bebal rungu hening sang malam
Dan suarasuara ku hanya bisu aksara
Mengendap diantara hujan yang menggema
Ah, biarkan saja dendang Asmaradana ku tergeletak
Biar menemani partiturpartitur sunyi yang berserak
Hingga hening hadir mengecup lembut keningmu, manisku
Mungkin lain waktu tetabuh kembali riuh
Dan melantun aku tembang Asmaradana
Mengiring gemulaimu menari Sekar Pudyastuti
Menyambut henti langkahku di astana hatimu
Dan tak ada lagi sunyi diantara riuh hujan yang angkuh
Leksono - Wonosobo
16 December 2011
ini kalam aku tulis dalam diam
kala hening tak mau bergeming
dan rebah jiwa lelah dalam istirah
ini kalam aku tulis dalam diam
kala kerinduan mengendap
dibalik jendela yang buram kacanya
dan imaji tak mau pergi dari bayangmu
ini kalam aku tulis dalam senyap
kala harap terus mendekap
degup jantungmu memaju degupku
dan cintaku padamu karena cintaNYA
ini kalam kutulis dalam senyap
kala subuh belum mau tumbuh
dan sendiri kunikmati hidangan malam yang beku
berbalut doadoa yang terus kuucap
dilembah kasihNYA menuju lembah cintamu
leksono – wonosobo
18 desember 2011
Sepotong roti dan secangkir kopi
Tergeletak begitu saja diantara meja tanpa taplak
Karena aku lebih memilih
Setangkup gemuruh renai yang tak berusai
Selembar senja tanpa jingga
Menggantikan sepiring pisang goreng buatan ibu
Hangat dan nikmat terkecap rasa
Diantara gigil yang terus memanggil
Namun, sayup panggilan yang meluruh di puncak menara
Tak pernah kutemukan gantinya
Kusebar jaring, menangkap tirta segera
Kubasuh lusuh, dan doadoa mulai kuunduh
Selembar cerita pada Sang Pengusasa Raya
Tak pernah kutemukan gantinya
Walau senja memasang wajah buramnya…
Leksono – Wonosobo
18 December 2011
AKU adalah mendung tanpa kelabu,
Sejak hujan meninggalkan jelaga tepat di dadaku
PERGIMU meninggalkan biasbias sepi
Menyisakan gigil diantara hampa arakan megamega
ADA yang kutakuti ketimbang gelegar halilintar
Nyala apinya yang membakara pucuk sunyi menyisakan sepi
KAMU adalah hujan yang meniadakan gersang diantara kerontang
Menghanyut aku diantara alir airmu, banjir saja telagaku
Biar tak ada lagi dahaga rinduku
Leksono – wonosobo
16 Desember 2011
Bisikmu yang lelah, hanya mampu rebah dikaki kamboja tua
Ditemani wewangi bunga aneka rupa yang tercium oleh beberapa hidung saja
Sedangkan aroma anyir yang bikin muntah, justru tak hilanghilang
Menjadi parfum kemeja mewah yang dipajang dibalkon tirani
Menikmati mentari sambil menari tari
Teriakmu hanya membuang riak saja
Tak sampai pada telinga yang tuli tersumbat demokrasi bau tai
Dan gema suara hanya menjadi gigil diairmatamu yang beku
Hingga kau nyalakan batang lilin
Dari batang tubuhmu
Namun jauh diatas balkon
Ada yang berkata sambil tertawa:
Dasar orang gila
Leksono, wonosobo
14 Desember 2011
Ini kali, jingga tak hadir menutup hari
Hanya gemulai resah diantara langit yang asyik meludah
Dan senja ini, bumi hanya mengulum diam
Gemuruh riuh meluruh diantara genta tak tertabuh
Hening mengecup kening, entah kemana sang penabuh berpaling
Buram senja mengisi bait sonata, mengendap sepi dibalik jendela
Mengais remah sisa tangkup roti yang kunikmati dari pagi
Berharap secangkir imaji tak terisi sepi saja
Dan diluar bias kunangkunang menyapa jelaga
Membawa serupa kabar dari rindu yang terumbar
Leksono – wonosobo
12 December 2011