Unknown


Malam ini kubagi lagi lagu – lagu ku
Bukan denganmu, bukan dengan waktu
Tapi dengan merah, dengan kuning, dan dengan hijau rambu

Kuyup di lusuh bajuku
Mengganti debu dengan gigil
Dengan perut yang masih saja bisu
Dan malam terus saja memanggil

Suaraku bukan senandung camar merdu
Hanya gendhing penambal kosong perutku
Tak kalian temukan nada – nada dicinta disana
Karena waktu telah merampasnya

Kami hanya sekumpulan yang terbuang
Dan terdampar diantara batu karang
Kami hanya coba bertahan
Dan disini kami temukan kehidupan

Bukan sengaja lusuh membungkusi ragaku
Tapi mereka merampas dari tanganku
Membuangku dalam debu
Dan cinta pun sekedar rindu
Disini kami masih saja sandarkan mimpi
Lewat bait nada sederhana
Kami sandarkan hidup yang dipunya

Disini kami dibesarkan
Tapi bukan disini kami dilahirkan

Diantara jabatan yang perebutkan
Kami terkadang terusikan

Di kejar, di tangkap, di pukuli
Tak ada yang peduli
Semua serupa arca yang bisu dan tuli

Dan jerit – jerit ku
Hanya terjebak dalam jelaga
Terbelenggu tak ada yang tau

Ini bukan akhir dari lagu
Tapi beku terlanjur memeluk dalam gigil
Memaksaku bersembunyi di sudut jalan itu
Bersembunyi dari lapar yang memanggil


211011 By : Yono Kentung
Unknown
Sajakku ini hanyalah bisu
Sembunyi di balik aksara yang hanya satu – satu
Yang hanya kueja dengan terbata

Laguku ini hanyalah diam
Dalam nada ia tenggelam
Yang tak pernah kutahu ketukannya

Sajak yang
Bisu
Lagu yang
Diam
Berserakan
di tepi jendela langit
Mengintip
baskara kala senja
Menghias
indah bidadari candhik kala.

13102011 By : Yono Kentung


Unknown

Kepada Oktober:

Tak ada jejak basah diantara sisa langkah
Hanya debu pun hilang diantara bayu

Dan angin hanya membawa kering
Tak peduli pada rindu tanah kerontang
Dan awan pun hanya serupa candramawa saja
Hilang dalam diam langit tak meludah

Desir semilir angin kering
Diatas batu kali yang meninggi
Jeram dalam bengawan
Pun serupa jelaga sebatas mata kaki saja

Aku menulis frasa ini
Diantara tanah – tanah retak
Yang rindu belai irama tirta yang menari
Dan rinduku pada semilir angin basah
Di Oktober yang resah

By : Yono Kentung 151011


Unknown

Senja itu aku masih bercumbu dengan hujan
Yang bermain bersama anak – anak kecil di pekarangan
Senja itu aku masih bercerita bersama secangkir kopi
Dibalik dingin yang menari bersama angin

Dan saat senja itu aku semakin mengerti
Mengapa ada tawa ditiap tetes hujan yang jatuh
Dan saat senja itu aku mengerti
Bahwa hujan menyimpan keindahan

Kupunguti helai demi helai sayap Mikail
Diantara tetes hujan yang singgah
Diantara pucuk – pucuk pinus
Diantara ilalang yang rebah

Kudengar syukur diantara gemercik hujan
Diantara doa – doa yang terkabul
Diantara pinta yang didengar oleh Nya

Dan saat senja itu aku semakin mengerti
Mengapa ada tawa ditiap tetes hujan yang jatuh
Dan saat senja itu aku mengerti
Bahwa hujan menyimpan keindahan
kalahujansore itu   By : Yono  Kentung
Unknown
dan lilin kecil menghias tengah ruang
hanya satu sisi yang tampak terang
dan ketika aku bertanya tentang pengorbanan
lilin kecil hanya memandang dengan senyuman

dalam samar tampak sebuah bayang
setia mengikuti setiap gerak
dan ketika kutanya tentang kesetian
sang bayang menjawab dengan senyuman

keduanya seakan tak mempunyai jawab tersurat
hanya senyuman yang menyimpan jawab
mungkin gelap pun  mendengar
dan dia pun mempunyai jawab yang sama

Aku masih berseteru dengan kata
Diantara huruf yang berserak di atas meja
hingga tak ada yang dapat terbaca
padahal sudah kutuang semua tinta dari dalam pena

Aku coba berdamai dengan mereka
Beri ruang dalam jiwa
Coba  menghunus pena
Coba menulis apa yang kurasa

Dan kudapati aku terjebak di tempat yang sama
Seperti hujan yang menderu, ku terus menyeru
Berharap waktu beri ruang padaku
Menuliskan rindu diantara nipis kulitku
Menggoreskan rasa diantara tajam mata pena
leksono, 09102011   by : Yono kentung