Unknown

Desah nafas hujan masih mengambang di pekarangan depan
Jejak basah asyik bermain banjir dari selokan
Sekuntum sepi mengakar dalam sunyi
Hujan beri sedikit ruang pada imaji

Ada luka yang kembali basah
Luka yang menjadi penghuni sudut resah
Ada luka yang kembali terbuka
Luka lama yang bernama cinta

Hujan menyimpan banyak arti
Hujan menyimpan banyak cerita
Hujan menyimpan banyak narasi
Karena hujan adalah sebuah prosa
Tentang kenangan
Tentang kamu
Dan tentang aku

Ada gigil yang muram disudut senja
Mengajak bercerita pada jingga yang entah
Karena jingga sembunyi buram jendela
Sedangkan hujan masih saja asyik mendesah

Hujan, senja tanpa jingga, dingin dan gigil
Memaksa ku untuk mengais dalam dimensi ingat
Ada kenangan yang terpanggil
Berjelaga disudut hati yang sepi

Aku menyerah
Ku nikmati saja hujan yang tanpa ultimatum
Dan biarkan ku memelukmu dalam kenangan
Bersama hujan, senja tanpa jingga, dingin dan gigil
Sejenak menepikan sepi dengan derai hujan yan tak berusai

Wonosobo,22 December 2012
Unknown
Ada yang jatuh tepat di ujung senja
Selengkung senyum yang terbenam diantara jingga

Senja yang khusyuk menggantung dibulu matamu
Menuliskankan sejuta aksara rindu yang tak selasai kubaca

Sedang tatap matamu tumbuh sebagai purnama
Menyediakan tempat untuk aku sembunyi
Dari kupukupu malam yang membawa kelam

Lihatlah, mentari kehabisan tenaga memanjat pucuk pucuk cemara
Ratusan kepak camar datang menghalau dingin

Ku kecupkan hening di keningmu
Ku pelukkan sejuta rasa yang tak terbahasakan
Bibirku mengeja setiap sajak yang mengalir dari matamu
Meski hening,
Dihatiku dan hatimu menghantarkan kata cinta

Kota ASRI
Hari ke 13 dibulan November

Unknown



Kutuliskan pesan tak terbaca di selembar kertas
Kubiarkan reinkarnasi menjadi perahu
Lalu menari bersama anak sungai
Tak tahu kemana alir membawa mengalir
Tak tahu di dermaga mana aku singgah
Bahkan tak tahu berapa jeram yang menjebakku dalam pusara
Tapi aku adalah perahu
Punya sebuah muara untuk kutuju
Punya angin yang selalu mengembangkan layarku
Ya…aku adalah perahu kertas
Kemuara bahagia aku labuhkan tuju

Akhir agustus di 2012

Unknown



Kuhidangkan jiwaku pada sepi
Dan kubiarkan jasadku tergeletak
Diantara riuh ratusan burung nazar
Yang datang memecah sunyi
Terbang dari empat penjuru bumi

Sementara itu, pintupintu yang ku ketuk
Semakin rapat tertutup
Tak peduli pada genta yang lantang teriak
Tak ada jerit, dan semua suara terkatup

Langkah semakin gontai menatap arah
Merekareka sebuah tuju
Tatap mata membisikkan kata untuk menyerah
Lalu berhenti diantara persimpangan yang buntu

Biarkan saja jiwaku menjadi tumbal sunyi
Dan kepak sayap kematian memeluk perlahan
Sementara teriakan yang lantang kulantunkan
Mengendap menjadi tumpukan sampah
Hingga mereka menutup hidung, telinga dan hingga kedua mata

09082012