Unknown







Dalam sajak dan puisi aku mencoba bermeditasi
Sepi, pun kudengar dalam resonansi sunyi
Bukankah hidup adalah panggung recital suci
Dimana manusia menjadi seorang abdi
Sedang Sang Penentu Takdir adalah Dia yang tak mengenal titik akhir

Kosong, pun tak kudapati apaapa
Hanya ruang berjelaga
Hampa, sepi menusuk disetiap baris nadi
Benci, aku ingin segera berlari

Dalam sajak dan puisi aku coba menepi
Gelap, merayap menyapa setiap sudut senyap
Entah; mana utara, mana selatan
Tuhan, aku berteriak memanggil namaMU

Labirin tanpa pintu
Hanya berputar pada satu poros waktu
Jengah, ingin rebah untuk istirah
Pada Pemberi Titah aku berserah

Menyulam sebuah harapan diantara doadoa
Meski hidup sembunyi diantara aksara tak terbaca

Wonosobo, 12 February 2013
Unknown


Hujan, seperti ingin berkisah
Dalam gemulai air yang jatuh satusatu diujung dahan
Bukan tentang banjir, bukan tentang longsor, bukan pula tentang bencana

Seperti mulutmulut yang tak pernah berhenti untuk sekedar bernafas
Sebuah mulut yang selalu mencari celah untuk mencela
Hujan punya bahasa untuk bercerita
Dan aku hanya punya cangkir kopi yang kembali terisi
Kunikmati saja, sambil membaca

Sementara dipinggir jalan seorang ibu menggendong anaknya
Demi baju seragam yang tidak kena air
Dan pedagang kakilima
Menyembunyikan setumpuk kecemasan dalam gerobak mereka
Itu pun sudah terendam setinggi lutut

Hujan sore ini seperti tak Cuma berkisah
Ada senandung resah yang tak berkesudah
Seperti pintu air yang kebingungan mau apa dan bagaimana
Sementara tumpukan sampah menjadi daratan dibantaran kali
Bahkan istana sang raja juga berubah jadi kali

Negeri seperti negeri pencuri
Bahkan air mencuri jalan raya untuk mengalir
Lalu, sekelompok tikus got tidur diatas rumah berlantai dua

28 January 2013
Unknown
Dan senja adalah hening; semua suara bergeming, dan sunyi berumah diantara sepi

Tapi hatimu; adalah pagung recital suci, tempat nadanadaku berumah mengalunkan simfoni bernama rindu

Raba dadaku disana kau dengar degup yang tak pernah redup, kusisipkan baitbait cinta yang tak mengenal jeda, 

Saat, waktu memberi spasi, aku tak jauh dari urat nadi, disetiap helai angin aku menuliskan rindu yang ingin kau baca, lihatlah luar jendela, pada langit satu warna ada bagian yang indah; aku ada disitu

Desah nafasku adalah bait tentang indahmu; aksaranya selalu rindu; kubaca tanpa kenal waktu

Wonosobo, 29 January 2013

Unknown

Kutinggalkan cinta di Kintamani
Sengaja, biar dia tak melihat aku bercumbu
Dengan bayangbayang senja pantai Kuta

Tapi, aku masih saja ingat raut wajahnya
Ketika dia rebah diantara hening
Bernyanyi bersama tarian padi kemuning

Lengkung senyumnya
Adalah sarapan bagi kabut yang tumbuh
Membangunkan cicada di sudutsudut Ubud

Kutinggalkan cinta di Kintamani
Sengaja, biar dia tak melihatku menyepi
Diantara riuh debur yang menyapa Sanur malam ini

Tapi, tatap matamu masih saja berputar diantara imaji
Semakin aku terpejam kau hadir semakin nyata dalam bayang

Tak hanya kutinggalkan cinta di Kintamani,
Di Ubud,
Di Sanur,
Atau di riuh ombak Kuta yang berlari
Tapi, ku tinggalkan semua kenangan dalam dimensi ingat yang terkunci
Karena selalu ada cerita
Antara aku, kamu dan Bali

05122012
Unknown

Ada yang jatuh tepat di ujung senja
Selengkung senyum yang terbenam diantara jingga

Senja yang khusyuk menggantung dibulu matamu
Menuliskankan sejuta aksara rindu yang tak selesai kubaca

Sedang tatap matamu tumbuh sebagai purnama
Menyediakan tempat untuk aku sembunyi
Dari kupukupu malam yang membawa kelam

Lihatlah, mentari kehabisan tenaga memanjat pucuk pucuk cemara
Ratusan kepak camar datang menghalau dingin

Ku kecupkan hening di keningmu
Ku pelukkan sejuta rasa yang tak terbahasakan
Bibirku mengeja setiap sajak yang mengalir dari matamu
Meski hening,
Dihatiku dan hatimu menghantarkan kata cinta

Kota ASRI
Hari ke 13 dibulan November