Unknown

Sebening pagi, kau adalah cahaya
Kuseduh butir embun di kelopak netramu
Bukan bulir airmata yang jatuh lalu mengalir
Tapi bulir embun yang mekar menjelma butiran cahaya

Sebening pagi, kau adalah cahaya
Cahaya yang merampas kerinduan
Diantara subuh yang baru tumbuh
Dan meluruh rindu diantara pucuk perdu

Sebening pagi, kau adalah cahaya
Cahaya yang merampas sunyi
Dan senyuman mu adalah bidari pagi
Yang melukiskan mentari dengan warna surgawi

Sebening pagi
Kau adalah cahaya
Membisikkan bahagia diantara kepak angin yang dingin
Meluruhkan duka diantara pagi yang baru terjaga

Sebening pagi
Kau adalah cahaya
Manja menjaga bahagia tetap selamanya

06032012
Unknown

Tak pernah kudengar sedu sedan itu
Tak pernah kubaca aksara duka itu
Entah karena rungu ku yang tak mampu mendengar
Atau Karena lisan ku yang kelu membaca aksara terpapar

Sedu sedan, duka lara, dan air mata
Nyaris tak pernah terlukis dari mu
Wahai malaikat tak bersayap

Engkau ajarkan kau terbang
Diantara gemintang yang terkadang meredup
Bahkan, kuingat kau selalu rengkuh aku yang terjatuh
Dengan rapuh kedua sayapmu

Tawa itu, bahagia itu dan semua canda itu
Kau seduh jadi satu untuk ku
Tak peduli berapa setapak yang kau jejak

Kulihat guratan kokoh karang jiwa
Diantara dua alismu yang memutih
Kuhirup aroma kedamaian
Diantara sorot netramu yang meredup
Tapi tak kulihat rapuh raga mu yang termakan usia
Kau simpan semua dalam genangan tawa
Bahkan selalu kau bungkus lelahmu dalam senyum ketulusan

Aku menemukan rangkuman semua keindahan
Aku membaca sipnosis ketegaran
Aku menuliskan dengan satu judul
IBU

21022012
Unknown

Kucoba tuliskan katakata bersayap
Sengaja untuk mengisi jingga yang merayap
Kudengar lamat terbata kau baca setiap aksara
Mungkin tak mampu kau eja
Sengaja ku simpan makna diantara bulir kata yang matang
Begitulah puisi kudendang dalam remang
Padahal aku hanya ingin mengirim sejumput kata
“Aku cinta kamu”

Cinta yang merupa kepak kupu
Penuh dengan warnawarni syahdu
Cinta yang membawa terbang
Jauh melayang dalam bayang

Ulurkan tangan mu manisku
Biar kau raba desah nafas yang mengeja namamu
Genggam jemariku
Biar kau dengar denyut yang memanggil namamu

Mari sini manisku
Kuajari kau membaca kata yang kupunya
Biar hilang semua Tanya
Kemari manisku
Kutemani kau mengeja setiap baitbaitnya
Hingga kau tahu aku menuliskan cinta untukmu disana
18 February 2012
Unknown

Jumantara tak bermega
Pawana rebah langit tak jadi meludah
Kupukupu hitam mandi dibawah sorot lampu kota
Bertanya bertanya
Mengapa, apa dan bagaimana

Lalu sekelebat bayang lewat di depan jalan itu
Menyapa satu per satu pedagang yang tersenyum pada malam
Kotaku tak mau sembunyi dalam sepi
Mungkin nanti saat dingin turun pelanpelan dari tahta ancala
Dan mimpi menjamah semua Tanya
Mengapa, apa dan bagaimana

Jumantara tak bicara
Waktu menjamah detik yang berdegup
Malam tiba pada ajal nya
Masih ada sisa tak terjawab
Mengapa, apa dan bagaimana

14022012